Segera tinggalkan cara membimbing skripsi gaya lama

berikut ini ulasan yang mungkin bisa digunakan untuk membimbing mahasiswa dengan tawaran terbaru yang ditawarkan oleh Ade Gafar Abdullah dari Universitas Pendidikan Indonesia, berikut ulasannya;

karya ilmiah mahasiswa adalah materi wajib yang harus dikerjaan diakhir masa kuliah untuk meraih sarjana, sidang skripsi menjadi penentu layak atau tidak seorang mahasiswa menyandang gelar serjana di indonesia. namun banyak mahasiswa yang mengalami kendala-kendala dilapangan. dan ditambah lagi pola bimbingan yang tidak cocok bagi mahasiswa tersebut. bahkan pembimbing yang jadi tolak ukur sebagai reviewer serta editor malah terkesan tidak serius pada bidang yang dibimbing.

Ijinkan saya berbagi tips dan trik supaya karya skripsi mahasiswa S1 kita memiliki kualitas yang baik dan layak publish.

Di awal semester dosen segera membuat list daftar topik-topik penelitian yang bisa diakses mhs S1 kita, dan tentunya harus mengacu pada payung riset KBK atau roadmap individu dosen. Jika dosen memiliki hibah penelitian, topik yg ditawarkan tentunya dapat mensupport pekerjaan risetnya. Bagi pemula silakan membuat list 3-5 topik yg bisa ditawarkan.

Rekrut mahasiswa potensial, kalau saya sendiri suka mengintip talenta mahasiswa saat perkuliahan, jika ketemu mahasiswa yg rajin dan memiliki motivasi tinggi maka akan segera saya rekrut sebagai mhs bimbingan (jadi harus jemput bola, bukan nunggu dilamar mahasiswa 😁). Meskipun sebenarnya kita tidak boleh membeda-bedakan mahasiswa, karena pada dasarnya tidak ada mahasiswa yg bodoh, yang ada adalah mahasiswa yg kurang beruntung mendapatkan dosen yang hebat ❤.

Read Also  2020 International Conference and Exhibition on Traditional & Alternative Medicine

Pola bimbingan jangan individual tapi modelnya bimbingan bersama (seperti budaya dosen di Jepang/zemi). Lakukan secara konsisten bertemu seminggu sekali (meskipun sy masih belum juga bisa sih), tapi selama ada waktu luang terus berdiskusi secara kelompok memantau progress mereka. Keuntungan pola bimbingan seperti ini dapat menghemat waktu. Karena kita hanya perlu waktu 1-2 jam seminggu untuk melayani mahasiswa dlm bimbingan skripsi. Segera tinggalkan membimbing mhs seperti praktik dokter memanggil satu per satu pasiennya😁.

Pada pertemuan pertama bersama mereka, paparkan aturan mainnya. Bahwa skripsi mereka luarannya harus publish di jurnal atau proceedings, dan jangan lupa ongkos publikasi/seminarnya ditanggung oleh dosennya😁.

Sebagai langkah awal, biasanya saya meminta seluruh mahasiswa mendownload minimum 10 paper yang terkait dengan topik yg akan dikerjakan, dan mengajarkan kepada mereka bagaimana teknik membaca jurnal, mereviewnya, dan mensintesnya. Berikutnya saya ajarkan teknik menuliskan gagasan-gagasan penting yg terkandung pada jurnal yg mereka baca.

Minggu berikutnya saya akan tagih hasil review 10 jurnal tersebut, dan biasanya hasilnya masih kurang memuaskan, maka saya evaluasi pekerjaan mereka satu per satu, dan pertemuan berikutnya mereka biasanya mampu merevisi dengan baik.

Selanjutnya saya naikkan tantangan, mereka diberi tugas untuk mereview minimal 50 jurnal (kalau dalam bidang saya biasanya saya sarankan ambil dari IEEE atau sciencedirect), saya beri waktu sekitar dua minggu. Formatnya dibuat tabel yg berisi kolom2 terkait judul, metode yg digunakan, temuan penting, dan kesimpulan pentingnya. Jangan lupa setiap kalimat yg mereka tulis sudah berupa hasil Pharafrase. Saya sarankan mereka mereview jurnal minimum dari terbitan 5-10 tahun sebelumnya.

Read Also  DARMASISWA SCHOLARSHIP PROGRAM 2020

Setelah selesai, pada kegiatan progress report saya akan tanya satu per satu, terkait pengalaman mereka membaca jurnal-jurnal tsb. Dan biasanya setelah banyak membaca jurnal mereka akan menemukan research gap-nya. Untuk mhs S1 cukup modifikasi data ataupun algoritma itu sudah cukup untuk mengejar originalitas risetnya. Latihan berikutnya adalah menyusun metode penelitian. Dosen dan mahasiswa bersama-sama menyusun prosedur penelitian yang detail, selanjutnya turunkan menjadi instrumen penelitian. Pada tahapan ini jangan biarkan mhs bekerja sendiri, dosen harus ikut campur menyusun prosedur dan instrumen penelitian.

Setelah dirasakan mantap, saatnya mahasiswa ambil data. Jangan lupa latih dulu mahasiswanya bagaimana teknik mengambil data yang baik. Progress report berikutnya dosen harus mengecek data2 yg sudah dikumpulkan mahasiswa, apakah semuanya sudah memadai untuk diolah?. Jika masih kurang tentunya mahasiswa wajib melengkapinya, tapi jika sdh bagus lanjutkan pada proses olah data.

Buatlah pertemuan yg agak lama mungkin perlu 3 sd 4 jam untuk mengajarkan kepada mahasiswa bagaimana cara mendiskusikan hasil penelitian. Jangan abai juga terhadap ilustrasi yg dibuat mahasiswa, biasanya saya ajarkan juga kepada mereka bagaimana cara ‘menggambar’ ilustrasi yang menarik dan informatif.

Setelah mhs selesai mendiskusikan hasil, saya kasih mereka waktu 2 minggu untuk menulis bab Hasil dan Diskusi, dan kita diskusikan pada progress report berikutnya.

Langkah berikutnya adalah meminta mereka menulis bab 2 Tinjauan Literatur, biasanya bagian ini tidak begitu sulit karena pada awal kegiatan sudah dilakukan, tinggal menuliskan. Tapi ingatkan kepada mahasiswa bahwa pada bab ini bukan pekerjaan memindahkan teori-teori fundamental yg hanya memindahkan tulisan dari buku-buku ajar 😁. Tapi harus mengacu pada kata-kata kunci topik risetnya, telusuri state of the art dari setiap variabel penting tersebut.

Read Also  Oral History Training at the Science History Institute

Inilah bagian yg paling tersulit, yaitu ngajarin mahasiswa menulis bab pendahuluan. Tapi biasanya kalau mereka sudah pengalaman membaca puluhan jurnal, lebih mudah mengarahkannya. Meskipun mahasiswa saya sudah mengetahui bahwa bab pendahuluan itu berisi fundamental fenomena, problem statment, previous work, research gap, rumusan, tujuan, dan batasan masalah, tapi masalah yg sering saya temui ada pada masalah ‘pelajaran bahasa Indonesia-nya😁’, yaitu antar kalimat tidak kohesif dan antar paragraf tidak koheren. Langkah berikutnya tinggal selesaikan aksesorisnya: diskusi judul dan abstrak.

Progress report berikutnya adalah memantau pekerjaan penulisan papernya. Biasanya saya belum izinkan mereka sidang jika belum setor paper untuk dipublikasikan pada seminar ataupun jurnal ilmiah. Kalau luaran mahasiswa S1 kebanyakan hanya sanggup terbit sebagai proceedings pada konferensi internasional, tapi beberapa mahasiswa sanggup juga nembus jurnal Q2.

Selamat berlibur, silakan dijadikan resolusi 2020 untuk mencoba resep ini 😁.

Salam,
Ade Gafar Abdullah
Universitas Pendidikan Indonesia

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*